Obama On The Rise?

•January 21, 2009 • 2 Comments

Hai lagi,

Kali ini saya berusaha menulis mengenai hal selain sepeda hijau saya yang akhir-akhir ini kurang terawat karena pemiliknya males kehujanan terus :P , sebenarnya itu tidak berhubungan ya?

Anyway, kemarin malam saya ikut menjadi saksi TV atas pelantikan presiden kulit hitam pertama Negara Adidaya yang bermerek US atau Amerika, sekitar 2 juta orang memadati lokasi pelantikan ataupun inaugurasi, luar biasa.

Anehnya kenapa ya negara kita ini ikut bergembira sekali? Apakah karena si Barrack H. Obama pernah sekolah dan tinggal di Menteng?

What if in reality, this Obama Rising will have nothing to do for our country at all? will some of us blaming him for anything like Indonesian people always did?

We have a bad habit of encouraging people to stand up for us, but never want to stand up for ourself, when something happened, we will blame them for our casualities.

Kurang bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan hanya bisa berharap pada pengaruh dan tindakan orang lain akan berdampak positif pada diri kita, kinda remind me of myself in the past.

Obama is just a human, dia bisa naik, bisa juga turun dengan cara yang tidak beradab, tergantung how people react after he do his job for some time, seperti yang sudah saya sebutkan tadi, kita senang menaikkan orang dengan banyak harapan untuk kemudian menjatuhkannya dengan telak setelah dia tidak berkenan di hati dan pemikiran kita.

Seharusnya kita justru skeptis dahulu hingga ada bukti bahwa ada perubahan yang terlaksana sesuai janji si pemberi janji surga, kebanyakan euphoria berakhir dengan depresi dan kekecewaaan karena dilakukan terlalu ‘over’ dan diluar kapasitas yang semestinya.

Begitupun dengan presiden kita sendiri, jangankan Obama, SBY saja bisa dihitung sudah berapa kebijakan yang sebenarnya sudah merupakan janji surga lama beliau yang sudah basi tetapi baru dilaksanakan terburu-buru pada waktu akan terjadi pemilu, belum lagi munculnya figur-figur baru yang menyokong banyak omongan dan janji baru, tetapi ada satu yang saya perhatikan, kurang membuminya janji, tidak seperti obama yang dengan pinternya menyelipkan janji yang lebih realistis, tidak menghilangkan kemiskinan seperti slogan gerindra, tapi mengurangi ….

Yah setidaknya itu yang saya tangkap dari euphoria ga jelas pemilihan presiden yang bukan pemimpin negara kita, euphorianya terlalu lebay dan tidak jelas orientasinya, what will we get from praising a man that doesn’t even know who we are except that he was here and living in our country in his elementary school days, but other than that…. nothing more.

regards

vdit

Menjelang Ufuk Baru Chinesse New Year

•January 19, 2009 • 1 Comment

Bulan Januari 2009, sebuah bulan unik dengan perayaan tahun baru yang berkaitan, dimulai dari tahun baru masehi dan kemudian di tanggal 26 Januari 2009 depan akan merayakan tahun baru lagi versi Cina, imlek, sebuah tradisi indah yang kadang suka terlupakan oleh kalangan non chinesse.

Saya termasuk orang yang cukup beruntung hidup di keluarga yang menjunjung kesetaraan kultur, sehingga semua jenis kebudayaan yang ada disekitar saya bisa terasimilasi dengan sukses ke dalam sanubari saya sebagai bagian dari keindahan budaya yang patut untuk dilestarikan, salah satunya adalah Imlek.

4 bulan sudah saya di Jakarta, ditengah pekerjaan dan kegiatan sampingan seperti menulis di blog ini, bersepeda bersama rekan-rekan mantan ABC dari Aceh dahulu, saya kemudian terpikir, ditengah hiruk pikuk hebohnya perayaan tahun baru yang menggebu-gebu  dari setiap insan di negara ini, kenapa tidak terpikirkan sedikitpun untuk sedikit lebih membumi dalam merayakannya?

Jaman dahulu orang merayakan imlek dengan barongsai dan karnaval unik baik berjalan kaki maupun bersepeda, kebersamaan sangat kental terasa, yang sangat kontras dengan keadaan sekarang dimana setiap orang hanya mementingkan bahwa tahun baru adalah ‘just another long weekend’ dan kebanyakan meluangkan waktu dengan keluarga dan menyepi dalam bilik rumah mereka masing-masing, ataupun berjalan-jalan di mall-mall mencari oleh-oleh dan suvenir tahun baru (imlek) untuk sanak saudara tercinta.

Kenapa pemerintah tidak mencoba apa yang sudah ada? setiap minggu Jalan Sudirman dikosongkan sejenak untuk para pejalan kaki dan para pesepeda untuk dapat meluangkan waktu menikmati jalanan ibukota meski hanya beberapa kilo saja, alangkah indahnya dan unik kalau hal yang sama bisa dilakukan saat tahun baru nanti, yang mana yang paling dekat adalah Imlek, dimana jika parade dan keramaian bisa dilewatkan di jalan Sudirman, mungkin bisa juga di barengkan dengan doa bersama untuk perdamaian dunia (terkait palestina-israel)

Tapi sekali lagi mungkin ini masih sebatas wacana saja :P

Rain in the Limelight City

•January 14, 2009 • Leave a Comment

Hari ini 14 Januari 2009, tepat 30 hari lagi di tanggal yang sama akan jatuh hari valentine, tapi ironisnya 4 hari terakhir ini bagaikan berenang di kolam dangkal berlumpur. The limelight city alias Jakarta mengalami berkah/musibah? tahunan berupa hujan sehari-hari yang berlangsung sejak dini hari dan berselang hidup mati sehari hingga kira-kira pukul 22.30 malam harinya.

The ‘Limelight’ city telah memasuki periode membosankan yang telah berlangsung bertahun-tahun, yaitu periode musim hujan atau lebih akrabnya yaitu: MUSIM BANJIR, masalah terbesar kota sebesar Jakarta ini adalah masih saja terdapat elemen tak terduga bernama banjir di kota yang berkelas setinggi Jakarta. Mobil-mobil, motor-motor, bis-bis, busway, para pedestrian walker saling melesat mengabaikan hak-hak umum mencari selamat dibawah serbuan air hujan yang melesat dari langit.

Pengguna sepeda semacam saya ini secara tidak langsung meskipun baru berada di Jakarta selama kurang lebih empat bulan, telah secara langsung menyaksikan dan ikut bersetubuh dengan pergumulan ibukota ini, ya saya telah menjadi bagian dari kunang-kunang yang merubung ibukota mencari nafkah disini. Sepeda notabene adalah minoritas jika dibandingkan dengan pengguna jalan raya lain semacam bus, mobil pribadi, mobil pinjeman, motor, busway dan bahkan pejalan kaki sekalipun. Perasaan ini terasakan selama musim penghujan yang baru mulai ini, apalagi dengan iming-iming rencana pemkot Jakarta untuk memberikan Bike Line/Lane? untuk para bikers yang ternyata memakan Jalur pedestrian (pejalan kaki), Kenapa harus sesama minoritas yang menjadi korban?

Sehari-hari saja sudah pernah saya rasakan yang namanya harus naik trotoar dikarenakan ketidaksinkronan hati nurani pengguna jalan lain macam metro mini dan/atau bus dan motor yang saking nafsunya sampai tega memepet hingga badan trotoar, naik trotoar memepet para pedestrian walker yang menyumpah-nyumpah (atau malah kagum?), saya jadi tidak habis pikir, kapan pemerintah akan lebih memperhatikan kepentingan publik yang lebih dominan? jalur cepat yang biasa saya gunakan dengan prinsip Kiri always supaya tidak menganggu mobilers yang lewat saya rasa sudah cukup memadai jika dijadikan sebuah jalur sepeda dengan lebar seadanya yang tidak terlalu memakan jalan.

Memang banyak hal perlu dikerjakan dan dibenahi, tapi apakah harus mengorbankan kepentingan marginal hanya demi sebuah pencapaian yang saya lihat lebih kearah kepentingan politis ekonomis daripada publik?

Dengan adanya musim hujan ini saya semakin ragu dengan rencana pemerintah untuk membuat perubahan, bayangkan jika jalur sepeda dibuat berdampingan dengan jalur pedestrian, apalagi katanya akan ada tempat peristirahatan di beberapa kilo, apakah tidak akan memancing tumbuhnya para pedagang kaki lima yang sudah menjamur (contohnya pedagang makanan di jembatan busway, atau di sebelah plaza bapindo), apakah itu nanti tidak memancing hadirnya insiden trantib rutin dan keramaian setiap pagi dan sore yang ujung2nya  berujung pada naiknya tekanan darah setiap pengguna jalan yang lewat.

Yah setidaknya terkena klakson oleh mobil mewah berpelat RI 43 di sudirman masih lebih berkesan daripada harus memaki-maki orang-orang yang nutupin jalan di jalur sepeda, atau dengan cueknya berjalan di jalur sepeda (seperti orang-orang dengan cueknya berlarian di jalur busway depan blok M). Yah musim hujan ini memberikan lebih banyak peluang untuk instropeksi lebih dalam buat kita semua pengguna jalan, masalah terbesar kita adalah ego dan ketidakinginan untuk mengalah demi publik.

Keinginan pribadi saya sih adalah Limelight city saya ini kembali bercahaya tanpa banyak asap hitam mengepul, dan semoga hujan sehari-hari yang terjadi bisa lebih menyegarkan polusi yang sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Straight from the street

•December 13, 2008 • 1 Comment

Pernahkah kita sebenarnya ngebandingin saat kita on the street (baik itu sightseeing ataupun sekedar nongkrong) dengan in the mall?

Mungkin banyak orang akan berkata lebih enjoy berada di mall yang ramai dengan orang-orang yang beragam bentuknya, dari yang pake tank top, back-less, mini skirt, hot-pants, sampai pria seksi dengan dandanan keren.

Pokoknya cuci mata abis deh! But honestly, mungkin ada beberapa seperti saya yang mungkin (lagi) lebih enjoy on the street, minus asepnya tentunya hehehe. Ya mungkin mau gimana lagi, ruang publik terbuka di jakarta ini emang semakin berkurang yang outbound, tambah banyak inbound dalam bentuk mall dan toko-toko yang jumlahnya ratusan, susah untuk sekedar bersepeda atau jalan-jalan, mungkin masih bisa sih di daerah macam Monas, senayan, tapi jika ingin back to nature, kayanya sih masih susah, kecuali eprgi kedaerah macam sentul, bogor gitu.

tapi minggu- minggu ini lumayan hepi deh, udah ketemu beberapa rekan pesepeda bike to work yang ramah, seli (sepeda lipat) yang mau diajak ngobrol sambil jalan dari menteng sampai karet.

Entahlah kayanya kalo ke mall itu kadang terasa crowded banget, emang sih lebih menarik gitu keadaannya, tapi tetep beda jiakalau dibandingkan saat dulu di aceh bersepeda ke gunung dan lembah disana.

just my 25 cents though

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.