Mencoba mencintai dia

Biasanya tempat ini adalah wadah dan jurnal perjalananku, namun entah kenapa hari ini saya ingin mengisinya dengan sesuatu yang lain, sebuah pembelajaran yang tersingkap dari singkatnya saya mulai menggauli yang namanya sepeda dan jalan-jalan. Saya mungkin bukan seorang yang bisa dengan sangat jujur dan gamblang memilah kata dan menuliskan sesuatu perjalanan dengan indah dan mempesona layaknya beberapa oknum dan pelaku penulisan di blog yang sedang menjamur dan semakin menutupi permukaan bumi maya ini.

Biasanya rekan-rekan sesama pesepeda dan petualang, entah itu dari jaman kuliah, jaman saya pertama berkubang di liang dunia maya, selalu mengatakan beberapa hal yang seragam dan sejenis yaitu: Nikmatilah petualangan pribadimu, hisaplah sari-sarinya dan resapilah apa apa saja yang telah terjadi padamu meski pahit dan menyeramkan. Cobalah untuk menepikan rasa keterbelakangan dan ketertinggalan dalam pemikiranmu dan nikmatilah apa yang sudah kamu mulai meski baru sejenak, wah kesan pertama enak banget ya dengernya, serasa menemukan mainan dan kegemaran baru.

Benar-benar sebuah fatamorgana, sampai saya teringat perkataan almarhum ibunda yang berkali-kali ditekankan oleh mas-mas dan mbakyu-mbakyu saya, “Apapun yang kamu lakukan, seberat apapun lakukanlah dengan tulus dan penuh niat tanpa perlu banyak berkomentar dan berkata-kata serta mengeluh, kalau tidak tahu bertanyalah tapi jangan terus bertanya tanpa belajar apapun darinya”. Sejenak perkataan itu terkesan kontras dengan prinsip para petualang itu, bahwa semuanya itu dijalani aja dan dinikmati tapi terkesan tanpa ada pertimbangan matang dan perhitungan dalam pelaksanaannya.

Yah sebuah keberadaan seorang insan seperti saya ini memang mungkin tidak diperhitungkan oleh kawan-kawan petualang saya dulu untuk bisa berkata bijak seperti mereka, tetapi setelah saya mengalami beberapa goncangan batin baik itu karena kesalahan saya sendiri maupun hentakan dari orang yang saya kasihi (baca mantan), saya menjadi memahami sesuatu yang sangat penting dalam hidup berpetualang baik itu di alam maupun dalam kehidupan kita sendiri, yaitu:

Selalu Awasi diri kita sendiri sebelum kita bisa memulai menilai orang dan berhubungan dengan orang, selalu mulai dari diri kita sendiri sebagai manusia yang belum sepenuhnya sempurna.
Jangan terlalu terbuka dengan orang, karena meski kita akan menjadi orang baik dan ramah, tapi adakalanya kita menjadi bego dan diperbudak oleh keterbukaan kita sendiri.
Biasakan untuk mempelajari budaya dalam berkomunitas, kita harus tahu kapan kita bisa join the club, and when we must plug off the cable (pembelajaran sewaktu saya masih di teater semasa kuliah dulu), jangan biarkan komunitas mayoritas menekan kebebasan individual kamu.
Toleransi adalah kunci berteman dan bersosialiasi, namun jangan biarkan toleransi menjadi gembok dari diri kamu yang sesungguhnya (APAAN ni gw nulis ya wkakaka)

pada dasarnya sebuah keterbukaan adalah sumber kebebasan, namun ketika tidak diikuti dengan logika, hal itu justru membelenggu kita dan membuat kita menjadi bego dan bodoh.

Nah saat ini dengan sedikit demi sedikit berusaha lebih jujur dengan diri sendiri dan mengurangi omongan tidak perlu, saya berusaha menggali sesuatu yang hilang, syukurlah dia ada mendampingi tanpa banyak cincong dan banyak berkata-kata, doi stand by dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, saat dimana aku sudah mulai mengayuhkan kaki pulang dari jeda bekerja dan menikmati secangkir coffemix dingin ataupun sepiring roti canai telur di Canai Mamak.

Baru Seminggu ini saya mulai lagi memperlakukan dia layaknya pasangan lagi setelah hampir 2 bulan kuterlantarkan badannya sejak terakhir kita naik ke Lambade, dan ke lhok Nga, berulang kali dia menegurku dengan sedikit sesenggukan bahwa aku kurang perhatian dan tak mau melihat asas timbal balik dalam hubungan antara kita berdua. Sejenak aku teringat gagalnya hubungan cintaku sebelumnya, dan janjiku dalam hati untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, maka akhirnya kusentuh lagi dan kuperlakukan dia layaknya kesayangan yang memang seharusnya aku lakukan, tidak cuma sekedar di lap ataupun diminyaki, namun aku akhirnya memandikannya dan membersihkan noda-noda di sekujur tubuhnya. Tak lupa ku poleskan sedikit KIT untuk menjaga tubuhnya tetap slick dan licin agar debu nakal tak lagi menempel dengan ketat apalagi lumpur-lumpur membatu dan kotoran lain. Entah kenapa sejak kejadian itu aku merasa ikatanku bertambah kuat dengan si dia, setiap pulang kerja aku berusaha menyempatkan diri mengelap body hijaunya dan memperhatikan lecet-lecet yang timbul akibat kegiatan bersepedaku yang kadang-kadang suka over.

yah berpetualang memang benar-benar dimulai dari dalam diri kita sendiri tanpa harus melihat terlalu jauh dan berangan besar terlebih dahulu.

*apa sih …. sebuah carut marut perkataan yang tidak jelas dari seorang yang sangat tidak jelas

~ by Adith on May 14, 2008.

3 Responses to “Mencoba mencintai dia”

  1. jiahahaha.. kapan nikah ama spedanya om? =))

  2. sejauh apakah perjalanan Anda, saya sedang butuh saran, mampirlah dan berikan aku pencerahan,

  3. walah, saya pikir ini kisah romansa antar manusia.. n_n

Leave a Reply