Rain in the Limelight City
Hari ini 14 Januari 2009, tepat 30 hari lagi di tanggal yang sama akan jatuh hari valentine, tapi ironisnya 4 hari terakhir ini bagaikan berenang di kolam dangkal berlumpur. The limelight city alias Jakarta mengalami berkah/musibah? tahunan berupa hujan sehari-hari yang berlangsung sejak dini hari dan berselang hidup mati sehari hingga kira-kira pukul 22.30 malam harinya.
The ‘Limelight’ city telah memasuki periode membosankan yang telah berlangsung bertahun-tahun, yaitu periode musim hujan atau lebih akrabnya yaitu: MUSIM BANJIR, masalah terbesar kota sebesar Jakarta ini adalah masih saja terdapat elemen tak terduga bernama banjir di kota yang berkelas setinggi Jakarta. Mobil-mobil, motor-motor, bis-bis, busway, para pedestrian walker saling melesat mengabaikan hak-hak umum mencari selamat dibawah serbuan air hujan yang melesat dari langit.
Pengguna sepeda semacam saya ini secara tidak langsung meskipun baru berada di Jakarta selama kurang lebih empat bulan, telah secara langsung menyaksikan dan ikut bersetubuh dengan pergumulan ibukota ini, ya saya telah menjadi bagian dari kunang-kunang yang merubung ibukota mencari nafkah disini. Sepeda notabene adalah minoritas jika dibandingkan dengan pengguna jalan raya lain semacam bus, mobil pribadi, mobil pinjeman, motor, busway dan bahkan pejalan kaki sekalipun. Perasaan ini terasakan selama musim penghujan yang baru mulai ini, apalagi dengan iming-iming rencana pemkot Jakarta untuk memberikan Bike Line/Lane? untuk para bikers yang ternyata memakan Jalur pedestrian (pejalan kaki), Kenapa harus sesama minoritas yang menjadi korban?
Sehari-hari saja sudah pernah saya rasakan yang namanya harus naik trotoar dikarenakan ketidaksinkronan hati nurani pengguna jalan lain macam metro mini dan/atau bus dan motor yang saking nafsunya sampai tega memepet hingga badan trotoar, naik trotoar memepet para pedestrian walker yang menyumpah-nyumpah (atau malah kagum?), saya jadi tidak habis pikir, kapan pemerintah akan lebih memperhatikan kepentingan publik yang lebih dominan? jalur cepat yang biasa saya gunakan dengan prinsip Kiri always supaya tidak menganggu mobilers yang lewat saya rasa sudah cukup memadai jika dijadikan sebuah jalur sepeda dengan lebar seadanya yang tidak terlalu memakan jalan.
Memang banyak hal perlu dikerjakan dan dibenahi, tapi apakah harus mengorbankan kepentingan marginal hanya demi sebuah pencapaian yang saya lihat lebih kearah kepentingan politis ekonomis daripada publik?
Dengan adanya musim hujan ini saya semakin ragu dengan rencana pemerintah untuk membuat perubahan, bayangkan jika jalur sepeda dibuat berdampingan dengan jalur pedestrian, apalagi katanya akan ada tempat peristirahatan di beberapa kilo, apakah tidak akan memancing tumbuhnya para pedagang kaki lima yang sudah menjamur (contohnya pedagang makanan di jembatan busway, atau di sebelah plaza bapindo), apakah itu nanti tidak memancing hadirnya insiden trantib rutin dan keramaian setiap pagi dan sore yang ujung2nya berujung pada naiknya tekanan darah setiap pengguna jalan yang lewat.
Yah setidaknya terkena klakson oleh mobil mewah berpelat RI 43 di sudirman masih lebih berkesan daripada harus memaki-maki orang-orang yang nutupin jalan di jalur sepeda, atau dengan cueknya berjalan di jalur sepeda (seperti orang-orang dengan cueknya berlarian di jalur busway depan blok M). Yah musim hujan ini memberikan lebih banyak peluang untuk instropeksi lebih dalam buat kita semua pengguna jalan, masalah terbesar kita adalah ego dan ketidakinginan untuk mengalah demi publik.
Keinginan pribadi saya sih adalah Limelight city saya ini kembali bercahaya tanpa banyak asap hitam mengepul, dan semoga hujan sehari-hari yang terjadi bisa lebih menyegarkan polusi yang sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Leave a Reply