Bike My way

•November 21, 2008 • 4 Comments

Halo lagi

Yah, ada sebuah kelegaan saat 3 minggu yang lalu sepedaku datang juga ke jakarta, dan sekaligus sebuah ketakutan baru, selama ini aku biasa nyepeda di kota sepi macam banda aceh yang banyak panorama indah dan menyenangkan unduk di digowes.

And now?

Jakarta, kota berpolusi luar biasa dengan jumlah motor yang menyemut di setiap jalan utama, ketika pertama kali aku mengayuh sepeda keluar dari area kebayoran baru (gunawarman tepatnya), langsung terasa sudah hawa aspal jalanan dan asap kendaraan, meski itu masih jam 6.45 in the morning.

Bandingkan dengan Banda Aceh, 7.am, and you still get fresh air.

Dan ketika aku pulang jam 17.00 atau 5.00 PM, ada dua jalur dari kantorku Menteng (jalan Tanjung) yaitu melalui jalur berangkat yaitu Sudirman (Which is more suitable for urban rider, karena ada jalur cepat yang kena 3 in 1 jadi diatas jam 16.00 sepi banget), atau kuningan-tendean yang GILA ANTRIANNYA diatas jam 4, tapi di alur inilah justru aku menemukan inti dari bersepeda selain sehat.

Mungkin asap berpuluh2 motor dan bis itu tidak sehat untuk saya yang bukan Biker B2W yang rata2 pake masker, helem keren, baju balap sepeda keren yang aero dinamis, dan sepatu khusus, saya yang hanya mengenakan kaos berpori2 lebar yang mengurangi keringat, serta helem poligon lama, disertai jeans, nah ini satu lagi, kenapa saya prefer jeans daripada celana balap yang keren?

Dulu di aceh pada waktu sering ikut teman-teman ABC downhill, untuk pemula jeans adalah pilihan yang terbaik, karena tebal dan mencegah cedera yang parah kalau terjatuh akibat tidak pake knee or leg protector.

Jadi di jakartapun saya menganut prinsip yang sama, aspal itu keras bung, kita ga pernah tau kapan hilang konsentrasi. Sarung tangan juga baru beberapa hari saya miliki karena handle bar gripnya sudah mulai menyiksa kulit telapak tangan, sebuah MP3 adalah hiburan yang mengesankan jika bersepeda di jalanan macam Tendean dan jalur kuningan, berguna untuk meredam suara riuh lalu lintas dan makian pengendara motor yang sering seenaknya memaki.

menyelip2 diantara motor dan bis, naik turun trotoar di saat tidak ada pejalan kaki, berusaha ikut aturan meski motor amburadul seenaknya, adalah sebuah seni yang saya pelajari dalam 2 minggu melewati Jalur Kuningan ketika pulang, sementara sudirman, well….

Sudirman lebih sangat bersahabat, terutama karena jalru cepatnya sangat mendukung untuk saya dapat menempuh jarak dari RUmah (kebayoran baru) hingga kantor (jalan tanjung belakang cendana Menteng) dalam waktu kurang lebih 35 menit.

Intinya, meski i missed banda aceh moments, tapi di jakarta seperti ada daya tarik baru, riuhnya lalu lintas, arogannya pengguna jalan dan individualistis seperti menjadi tantangan baru buatku untuk tetep mengayuh sepeda in MY OWN WAY.

Bike 2 work ? nice community, but i do not often see them, because we have different ways and time…

Berharap sih suatu hari bisa menyapa salah satu dari mereka dan berkenalan

IF I AM LUCKY

dith

Ah well a bit of Poems and Arts never hurt

•October 18, 2008 • Leave a Comment

well, this might be new or not for you to read, but guess what?

In the last 4 months i already made 17 pages of poems and short ( i mean VERY SHORT) Story from my little journey to aceh (and also my broken heart story :P )

Well some of them were in Indonesia and also there were some of them in broken english LOL …

you can see it here: www.puranoid.wordpress.com

enjoy it

dith

‘the alchemist:story of the immortal nicholas flamel’

•October 8, 2008 • Leave a Comment

well…. kali ini sedikit berbeda dari ulasan dan cleprotan sebelumnya yang berkisar tentang walk around and bicycle… green bike sementara berganti dengan sebentuk cerita mengenai sebuah buku ijo yang bertebal sekitar 715-an halaman karangan Michael Scott yang bercerita tentang kisah fiksi dari seorang tokoh yang anehnya ga fiksi alias pernah bener-bener hidup 500 th (atau lebih?) yang lalu Nicholas Flamel, alchemist legendaris dari Perancis beserta istrinya Perenelle Flamel sepasang manusia abadi yang hidup terus karena formula ajaib yang ada dalam buku Abraham sang Magus yang diperebutkan selama beratus-ratus tahun.

Cerita secara keseluruhan memang cukup menarik, meski aga berbeda dari cerita2 semacam harpot dan LOTR, karena uniknya The alchemist (YANG BUKAN BIKINAN PAULO COELHO ini) memiliki sebuah pemahaman tentang sisi lain keabadian yang didambakan manusia, tidak selalu menyenangkan hidup sendiri dan harus melihat beratus-ratus temen baik dan saudara meninggal sementara kita tetap muda selama beratus tahun.

Keunikan yang timbul adalah tokoh utama adalah sepasang muda mudi yang hidup dijaman hi tech ini, dengan gadget bluetooth and i-pod, Josh and Sophie Newman, Kembar yang mengemban berkah dan malapetaka dalam ramalan buku milik Nicholas Flamel yang telah dicuri oleh musuh bebuyutannya, John Dee, beserta dengan Istrinya yang juga jatuh ketangan penyihir bengis itu, Perenelle Flamel.

Berbagai krisis kepercayaan masa kini terhadap mitos-mitos dunia lama, dan konflik kepercayaan mengisi novel yang ternyata adalah buku pertama (buku kedua:the magician, belum saya lihat hadir di rak buku gramedia) dari cerita panjang karangan Michael Scott ini. Gabungan lokasi nyata dan event-event nyata dalam sejarah membuat cerita fiksi ini benar-benar menarik untuk dibaca sebagai selingan dari cerita sihir konvensional dan mantra-mantra ajaib harpot dan LOTR, karena dalam novel ini, kita tidak butuh untuk membaca kata-kata susah dan istilah yang rumit, semuanya dibuat simpel dan mudah dimengerti oleh Scott, semacam istilah monster-monster mitologi, dia menggunakan istilah sesuai dengan bahasa mitologi yang asli, berbagai mitos dunia mampu dirangkum tanpa terkesan memaksa.

Kehadiran dewa-dewi Mesir dan Eropa dalam satu Scene bukan hal yang aneh dalam Novel ini, karena di novel ini, dewa-dewi itu digambarkan  ternyata hanyalah perwujudan ras yang lebih tua dan maju dari manusia dan bukan mahkluk Ekstra terrestrial atau yang lain, mulai dari Morrigan si dewi kematian berupa gagak, Bastet dewi kucing Mesir, Hekate dewi berwajah tiga, Nagthair manusia berkepala ular yang bersayap burung. semua dikemas sebagai bagian dari apa yang disebut dunia Tetua (elder). Manusia lah yang telah membuat mereka istimewa dan menjadi dewa, padahal aslinya mereka hanyalah kaum yang lebih tua (JAUH) dari manusia itu sendiri dan memilik penggunaan indera yang lebih tajam, itu saja.

Scott membuat semuanya terlihat begitu wajar dalam buku ini, sehingga saya menyarankan buku ini patut dicoba sebagai sebuah referensi tentang sebuah teori fiktif mengenai munculnya mitologi manusia yang dibungkus dalam sebuah cerita yang penuh berisi suspense dan fantasi yang kreatif dari Scott, bagaimana dia menghadirkan Yggdrasil (pohon kehidupan dalam mitologi Nord) dalam alam bayangan hekate adalah contoh bagaimana dia bisa membuat pembaca yakin bahwa dewa dewi yang kita yakini selama ini ternyata adalah SEBUAH SUKU EKSLUSIF yang saling kenal satu sama lain… manusialah yang membuat mereka terkotak2 seakan2 mereka adalah dewa dewi yang kuat dan berbeda…

WEll, akhir kata enjoy dan nikmati petualangan, Nicholas, Perenelle (perry), Josh dan Sophie dalam dua buku mengenai legenda Nicholas Flamel ini : the alchemist dan the magician (belum ada kayanya di gramedia)

 

- gratz – adith

Miss my bike

•September 16, 2008 • 4 Comments

Apparently I’ve been in jakarta only for two weeks, and i already missed my green bike that i still left in Banda Aceh, waiting for the confirmation whether i will be back there for another bike season or back here in Jakarta for another crowded city life.

Well… some of you must be thinking why i used the broken english here :P

Yeah the problem is more often i use this ‘broken’ one, the more chance i will be able to master it one day.

It is just like if you want to learn how to cycling around your town, you will probably get lost in the middle of complicated junctions and small crowded streets full of motor cycles.

In these 2 weeks of Ramadhan month, i spent my days in Jakarta with little activities, went out with my girlfriend, going out after magrib to ‘buka bersama’ with my ex project mates, went to Bogor.

My big sister told me that those activities called “kelayapan” LOL….

Well … I still don’t know exactly why i really-really missed Banda Atjeh A lot, probably because of the bike? Because of the community? or Because i’m afraid of living in a big city?

Dunno, maybe those things are true in the end ….

Sometimes i just wanna do something, but sometimes i just don’t know what next…. like that my girlfriend asked me if i can go with her to her relative’s wedding in Surabaya after Idul Fitri at 19 October 2008. And i still dont ask my family yet, if this is allowed or not, because we might have to order the ticket first. In the same time i want to bring her to solo to meet my sisters and also going to my late mother’s grave. And yesterday i just being asked that it will be good if i go this week to solo so i dont get caught by the crowded for idul fitri’s ‘mudik’ tradition.

Man…. i really had a hard time to do these, not like when i’m in banda aceh, when i wanted to do some biking, i will just go and grab my bike and ride it around.

I really missed my green bike

Do not think too hard, just ride.