Halo lagi
Yah, ada sebuah kelegaan saat 3 minggu yang lalu sepedaku datang juga ke jakarta, dan sekaligus sebuah ketakutan baru, selama ini aku biasa nyepeda di kota sepi macam banda aceh yang banyak panorama indah dan menyenangkan unduk di digowes.
And now?
Jakarta, kota berpolusi luar biasa dengan jumlah motor yang menyemut di setiap jalan utama, ketika pertama kali aku mengayuh sepeda keluar dari area kebayoran baru (gunawarman tepatnya), langsung terasa sudah hawa aspal jalanan dan asap kendaraan, meski itu masih jam 6.45 in the morning.
Bandingkan dengan Banda Aceh, 7.am, and you still get fresh air.
Dan ketika aku pulang jam 17.00 atau 5.00 PM, ada dua jalur dari kantorku Menteng (jalan Tanjung) yaitu melalui jalur berangkat yaitu Sudirman (Which is more suitable for urban rider, karena ada jalur cepat yang kena 3 in 1 jadi diatas jam 16.00 sepi banget), atau kuningan-tendean yang GILA ANTRIANNYA diatas jam 4, tapi di alur inilah justru aku menemukan inti dari bersepeda selain sehat.
Mungkin asap berpuluh2 motor dan bis itu tidak sehat untuk saya yang bukan Biker B2W yang rata2 pake masker, helem keren, baju balap sepeda keren yang aero dinamis, dan sepatu khusus, saya yang hanya mengenakan kaos berpori2 lebar yang mengurangi keringat, serta helem poligon lama, disertai jeans, nah ini satu lagi, kenapa saya prefer jeans daripada celana balap yang keren?
Dulu di aceh pada waktu sering ikut teman-teman ABC downhill, untuk pemula jeans adalah pilihan yang terbaik, karena tebal dan mencegah cedera yang parah kalau terjatuh akibat tidak pake knee or leg protector.
Jadi di jakartapun saya menganut prinsip yang sama, aspal itu keras bung, kita ga pernah tau kapan hilang konsentrasi. Sarung tangan juga baru beberapa hari saya miliki karena handle bar gripnya sudah mulai menyiksa kulit telapak tangan, sebuah MP3 adalah hiburan yang mengesankan jika bersepeda di jalanan macam Tendean dan jalur kuningan, berguna untuk meredam suara riuh lalu lintas dan makian pengendara motor yang sering seenaknya memaki.
menyelip2 diantara motor dan bis, naik turun trotoar di saat tidak ada pejalan kaki, berusaha ikut aturan meski motor amburadul seenaknya, adalah sebuah seni yang saya pelajari dalam 2 minggu melewati Jalur Kuningan ketika pulang, sementara sudirman, well….
Sudirman lebih sangat bersahabat, terutama karena jalru cepatnya sangat mendukung untuk saya dapat menempuh jarak dari RUmah (kebayoran baru) hingga kantor (jalan tanjung belakang cendana Menteng) dalam waktu kurang lebih 35 menit.
Intinya, meski i missed banda aceh moments, tapi di jakarta seperti ada daya tarik baru, riuhnya lalu lintas, arogannya pengguna jalan dan individualistis seperti menjadi tantangan baru buatku untuk tetep mengayuh sepeda in MY OWN WAY.
Bike 2 work ? nice community, but i do not often see them, because we have different ways and time…
Berharap sih suatu hari bisa menyapa salah satu dari mereka dan berkenalan
IF I AM LUCKY
dith
